Dari Sa'id bin Musayyab Radhiyallahu anhu, bahwa ia melihat seseorang mengerjakan lebih dari dua rakaat shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau melarangnya. Maka orang itu berkata, "Wahai Sa'id, apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?", lalu Sa'id menjawab :"Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah"

[SHAHIH. HR Baihaqi dalam "As Sunan Al Kubra" II/466, Khatib Al Baghdadi dalam "Al Faqih wal mutafaqqih" I/147, Ad Darimi I/116].



Tentang Walimatus Safar Menjelang Keberangkatan Haji

Share/Bookmark
Posted By Abu Ayaz

Kategori :

Sudah di lihat :




Entah siapa yang pertama kali menamai ritual ini dengan Walimatus safar. Karena kalo dilihat dari segi bahasa, artinya agak aneh. Walimah itu artinya Pesta, safar itu artinya Perjalanan. Acara ini lagi rame-ramenya di komplek simbah. Dalam seminggu ini sudah 3 undangan simbah terima. Dan belum satupun undangan simbah datangi.

Acara ini dhohirnya adalah ajang pamitan bagi jamaah calon Haji yang hendak berangkat ke tanah suci. Tapi di dalam lubuk hati yang paling ndlesep, simbah merasakan adanya kejanggalan dan celah, yang mana syetan bisa memanfaatkan celah tersebut agar manusia tergelincir.

Simbah merasakan janggal, karena biasanya yang namanya orang pamitan, justru dia yang datang ke orang yang bersangkutan trus tinggal bilang pamit. Sambil meninggalkan pesan seperlunya. Ini malah yang mau dipamiti diundang, disuruh datang ke rumahnya. Secara adab kewalik, jadinya malah kurang adab.

Kemudian kalau memang intinya pamitan, mengapa untuk kepergian ke tempat-tempat jauh yang lain, yang juga memakan waktu lama mereka tidak mengadakan acara yang serupa? Simbah belum pernah melihat TKW yang mau berangkat ke Luar Negeri misal ke Kuwait, bahkan ke Arab Saudi, mengadakan yang namanya Walimatus Safar ini. Padahal jarak kepergiannya sama-sama jauh dan bahkan lebih lama. Juga gak pernah ada mahasiswa yang mau kuliah di luar negeri ngadain Walimatus Safar macem priyayi-priyayi yang mau munggah kaji itu.

Mungkin ada yang beralasan, ini acara khusus untuk pergi haji saja. Kalo khusus untuk haji, ini masuk bagian mana dari Haji? Rukunnya, sunnahnya atau wajibnya?? Setahu simbah gak ada tuh di ketiga kategori ini yang namanya walimatussafar.

Selain bermasalah dari segi adab, acara ini bermasalah dari segi amalan. Suatu amalan yang baik adalah amalan yang ikhlas. Menjaga agar amalan kita ikhlas adalah hal yang susah. Dengan menghadirkan orang ke rumah sambil woro-woro mau naik Haji adalah perbuatan yang beresiko tinggi. Simbah gak mengatakan kalo amalan orang tersebut jadi gak ikhlas. Tapi yang jelas akan semakin susah menjaga keikhlasan.

Haji adalah ibadah mahal. Untuk bisa menjalankannya butuh persiapan besar. Setan gak suka lihat amal sholeh manusia dinilai baik. Maka setan selalu mencari celah untuk bisa merusak amal manusia. Sudah sepantasnya kita yang mau beramal, berusaha menjaga amalan kita tetap ikhlas, tidak bertendensi apapun, dan tidak membanggakan amalan kita di depan makhluk.

Kalo hal ini tidak diperhatikan, maka setiap tahun negeri kita ini hanya mengirim orang-orang yang rusak amalannya. Pulang dari haji, yang korupsi tetep korupsi, yang ngrampok kembali ngrampok, yang jadi mucikari tetep saja mucikari. Bedanya ada tambahan titel “H” di depan namanya.
__________________________


Walimatus Safar

Simbah hanya mendapati adanya anjuran untuk melakukan shalat sunnah safar dua rakaat sebelum keberangkatan. Dan dianjurkan di dalam sholat, setelah membaca Al-Fatihah untuk membaca surat Al-Kafirun di rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas di rakaat kedua.

Selebihnya yang kita dapati dalilnya justru penyambutan ketika seseorang kembali dari haji. Di mana para ulama mengatakan dianjurkan untuk memberikan ucapan doa dan selamat kepada yang bersangkutan.

عن ابن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا قفل من غزو أو حج أو عمرة يكبر على كل شرف من الأرض ثلاث تكبيرات ثم يقول لا إله إلا الله وحده لا شريك له ، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير آيبون تائبون عابدون ساجدون لربنا حامدون صدق الله وعده ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده رواه البخاري
.
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bila kembali dari suatu peperangan atau haji atau umrah, beliau bertakbir 3 kali kemudian mengucapkan: Tidak ada tuhan yang Esa tidak sekutu baginya. Baginyalah Kerajaan dan bagi-Nya pujian. Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa. Orang-orang yang kembali, orang yang taubat, orang yang beribadah, orang yang bersujud, orang yang memuji. Benar dalam janji-Nya menolong hamba-Nya serta menghancurkan sekutu dengan sendirian.

Yang secara harfiah ada tuntunannya anjuran melakukan shalat sunah safar dua rakaat sebelum keberangkatan. Dianjurkan setelah membaca surat Fatihah untuk membaca surat Kafirun di rakaat pertama dan surat al-Ikhlas di rakaat kedua.

Imam al Nawawi mengatakan dalam kitab al Majmu’: ”disunnahkan ’al naqi’ah’, yaitu memberikan ucapan doa selamat dan menyediakan makanan bagi orang yang baru datang dari perjalanan dan bagi orang yang menyambut kedatangannya” (al Majmu’, juz IV h 400). Orang yang bepergian atau keluarganya menyiapkan acara sebagai rasa syukur atas keselamatan orang yang bepergian dan menjalin silaturahim yang tidak mungkin datang kepadanya satu per satu.

Suatu riwayat dari Jabir bin Abdillah bahwa ”Rasulullah ketika datang ke Madinah menyembelih unta atau sapi”. Hadis riwayat Bukhari ini menunjukkan bahwa disyariatkan menyediakan makanan dalam rangka menyambut dan mensyukuri kedatangan orang dari bepergian dengan selamat, terutama sekali bagi orang yang datang menunaikan ibadah haji.

Jadi sekali lagi kewalik, seharusnya setelah pulang haji baru diadakan selamatan, bukan mau berangkat haji.
______________________________________

Catatan Si 'Mbah Yang Lain

SETIAP calon jamaah haji yang akan menunaikan ibadah haji, lazimnya mengadakan suatu acara dimana keluarga, handai tolan, tetangga, akan hadir di rumah calon haji tersebut tujuannya untuk menyampaikan ucapan selamat dan mengiringi doa keberangkatan calon jamaah haji agar lancar didalam pelaksanaan ibadah dan mendapat predikat haji mabrur. Bermaaf maafan, kemudian sebagian dari undangan yang hadir memesan doa tertentu atau bahkan oleh-oleh tertentu dari Arab Saudi kepada calon haji. Kebiasaan ini diiringi suatu harapan, pada suatu hari kelak, mudah-mudahan mereka pun mampu melaksanakan ibadah haji sebagaimana orang yang akan melaksanakan Rukun Islam kelima tersebut.

Sebenarnya kegiatan yang biasa disebut "Walimatussafar Haji" ini tidak ada tuntunannya baik dari Rasulullah maupun para sahabat jika ini dikaitkan dengan ritual perjalanan haji itu sendiri. Ini hanyalah sebuah tradisi, sehingga Anda sebagai calon jamaah haji harus mengetahui betul bahwa yang Anda lakukan bukan suatu keharusan, tidak ada kewajiban maupun sunnahnya. Tradisi yang demikian tidaklah buruk asalkan niat Anda melakukan bukan karena hal-hal yang bersifat syar'i.

Waliimatussafar berasal dari akar kata Waliimah yang berarti jamuan atau pesta dan Safar yang berarti perjalanan. Dengan demikian kata Waliimatussafar berarti jamuan atau pesta bagi orang yang hendak melakukan perjalanan jauh.

Dalam kaitannya dengan ibadah haji maka sebenarnya Rasulullah tak pernah melakukan acara Waliimatussafar secara khusus, dan jika berkeyakinan bahwa acara Waliimatussafar ini merupakan rangkaian dari ibadah haji maka itu mengada-ngada (bid’ah). Apalagi kalau acara Waliimatussafar akan merusak ibadah haji itu sendiri seperti mengurangi keikhlasan, padahal ikhlas itu ruhnya ibadah. Pasalnya tak sedikit orang ingin menggelar acara Waliimatussafar hanya untuk tujuan tak seharusnya seperti agar nantinya ia disebut pak/ibu haji, sehingga terjebak dalam perbuatan Riya.

Kebiasaan yang sudah mulai mentradisi di masyarakat kita;

1. Untuk keluarga yang ditinggalkan begitu orang tua (calon haji) kita sudah terbang / lepas landas nanti, maka anak-anaknya diminta membaca surah yasiin dan berdo'a agar diberi keselamatan.

2. Ketika calon haji sedang di Arafah, maka keluarga diminta membaca surah Yasiin dan berdo'a agar diberi kemudahan dan tidak kepanasan.Kemudian membagikan makanan kepada orang miskin (Shodaqoh) untuk satu orang jatahnya membagi ke 9 orang miskin jadi kalau suami isteri membagi makanan untuk 18 orang. Kalau mau bersedekah ya sedekah aja ngga' usah dikait-kaitkan dengan pelaksanaan ibadah haji.

3. Ketika calon haji melakukan melontar jumrah, maka keluarga diminta membaca surah Yasiin dan do'a karena pada saat melontar begitu banyak jamaah haji yang meninggal seperti kasus terowongan mina dsb, untuk itu didoakan agar diberi selamat.

4. Setiap malam jum'at agar diadakan yasinan (baca surat yasin bersama, mengundang jamaah).

5. Ketika besok akan berangkat maka malamnya diadakan yasinan.
Padahal agama ini mudah, kenapa syiar yang dilakukan oleh ustadz, kiyai jadi mempersulit. Untuk mengadakan acara yasinan dengan mengundang orang setiap malam jum'at bukankah butuh biaya, lagi pula tidak ada tuntunannya dari Rasulullah.

Di antara macam-macam tradisi yang terus dipertahankan :
1. Ketika calon haji mau keluar rumah, maka dikumandangkan Adzan didepan pintu keluar (banyak dilakukan di Medan, Palembang dan Kalimantan juga tidak tahu kalau didaerah lain).

2. Kain ihram yang akan dipakai kalau di Pematang Siantar (SUMUT) dibasahi dengan air dulu kemudian didoakan oleh ustadz katanya biar dingin dipakai ditanah suci.

3. Menuliskan lafadz dua kalimat shahadat, kemudian dipotong menjadi shahadat ain dan shahadat rasul, potongan yang satu dibawa oleh calon haji yang satunya ditinggal dirumah agar nanti si calon haji bisa kembali ke tanah air dengan menyatukan lagi potongan tadi manjadi kalimat utuh dua kalimat shahadat.


Imam Nawawi dalam kitabnya Al-Iidhaah telah merinci adab-adab safar itu yang antara lain:
1. Pertama, sebelum berangkat meninggalkan rumah dianjurkan untuk shalat dua rakaat dimana pada rakaat pertama membaca surat Al-Kafirun dan pada rakaat kedua membaca Al-Ikhlas, kemudian setelah salam membaca ayat Kursi, surat Al-Quraisy, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas yang dilanjutkan dengan berdo’a agar urusannya dimudahkan.

2. Adab safar lain yang disebutkan Imam Nawawi adalah: hendaknya ia mengucapkan wada’ (pamitan) terhadap keluarga, para tetangga dan para teman dekatnya. Tujuannya adalah untuk meminta maaf terhadap mereka dan agar mereka mendo’akannya.

3. Imam Nawawi menyebutkan adab-adab kepulangan dari safar, di antaranya: ketika tiba di rumah dianjurkan agar menuju mesjid terdekat untuk kemudian shalat dua rakaat, dan demikian juga apabila masuk ke rumah dianjurkan untuk shalat dua rakat lalu berdo’a dan memanjatkan rasa syukur kepada Allah swt. Adapun niatnya adalah tanpa perlu mengucapkannya dengan lafal-lafal khusus yang berbahasa Arab, tapi cukup berniat di hati saja tanpa perlu dilafalkan. Jadi shalat dua rakaat sepulang ibadah haji bukanlah sunah haji tetapi bagian dari adab safar saja.


Bahkan ada kejadian nyata, setelah mengadakan acara Walimatussafar dengan mengundang banyak orang, kemudian para tamu tadi tidak lupa memberikan amplop pulus kepada calon haji tersebut, namun apa lacur, atas kehendak Allah si calon jama'ah haji gagal berangkat ke tanah suci. Padahal walimah sudah dilaksanakan dan sudah juga dapat amplop pulus dari para tamu, akhirnya...grrrrrrrrr

Dus...pulangnya, bagi yang pulang dari Tanah Suci usai menjalankan ibadah haji dibuatin Gapura plus perangkat yang lain, yang lumayan besar ngabisin biaya ???

Mungkin Anda juga menemui hal-hal lain yang masih dipertahankan oleh masyarakat disekitar kita, semoga kita bisa memilah dan memilih mana yang menjadi tuntunan mana yang tradisi agar kita tidak masuk dalam hal-hal bid'ah dan khurafat.

Wallahu a'lam bishawab


Disunting dari berbagai Sumber
Sumber : Catatan Al Akh Anwar Baru Belajar
http://www.facebook.com/notes/anwar-baru-belajar/catatan-si-mbahtentang-walimatus-safar-menjelang-keberangkatan-haji/118747781501739


Share

Comments (0)

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.